Polisi Paksa 5 Gadis ABG Untuk Berbuat Mesum, Diimingi Uang Rp 20 Ribu Diminta Lakukan Hal Ini

 

StasiunBerita – Oknum polisi yang bertugas di Polda Kaltim dilaporkan karena diduga mencabuli lima bocah SD.

Modus yang dilakukan pelaku mengimingi korban sejumlah uang.

Korban mengaku diminta untuk memegang alat kemaluan pelaku.

Para korban kini ketakutan untuk melakukan aktivitas yang melibatkan pelaku sebelumnya.

Lima siswi SD yang menjadi korban tindak asusila oleh AS (40), oknum polisi di wilayah kecamatan Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu hingga saat ini masih mengalami trauma.

Para korban semuanya berjenis kelamin perempuan dan masih berusia di bawah umur.

Mulai dari usia paling muda 7 tahun hingga usia paling tua 12 tahun.

Oknum polisi yang menjadi pelaku tindak asusila tersebut juga merupakan guru mengaji dari para bocah-bocah tersebut.

 

Baca juga : Seorang Gadis Cantik Nekat Menjual Keperawanannya Dimedia Oline

 

Para orangtua korban kini melarang anak-anaknya untuk belajar mengaji di luar rumah.

“Saya sedih sekali, soalnya kan kita malu juga dengan tetangga.

Saya lihat anak saya masih ketakutan, makanya saya larang gak usah lagi ada ngaji-ngaji di luar, sudah kalau mau ngaji di rumah aja,” kata salah satu orangtua bocah korban tindak asusila yang meminta namanya tak disebutkan kepada Tribun Kaltim (grup Surya.co.id), Minggu (15/9/2019).

Menurut UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Balikpapan terdapat lima anak menjadi korban kasus dugaan amoral oknum polisi itu.

Secara psikologis tentu saja, kelima anak yang jadi korban oknum Kepolisian, mengalami gangguan.

“Bukan trauma tapi takut, soalnya kan kalau trauma itu dalam banget,” tutur Vivi Nur Asyiah Br Damanik, Psikolog UPTD PPA Kota Balikpapan.

Mereka para korban asusila dari oknum Kepolisian merasa takut, tidak mau lagi pergi mengaji.

“Jadi karena takut mereka akhirnya tidak mau melanjutkan belajar ngaji lagi karena orang tuanya juga sudah melarang,” kata Vivi kepada Tribunkaltim.co (grup Surya.co.id).

Perlu diketahui, selama ini oknum Kepolisian ini dikenal sebagai pribadi yang baik, mau mengisi waktu untuk menjadi pengajar pengajian.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Balikpapan, Esti Santi Pratiwi kepada Tribunkaltim.co (grup Surya.co.id) mengungkapkan semua korban masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Yang lapor ke kami ada lima anak dan semuanya berjenis kelamin perempuan. Usianya itu paling rendah 7 tahun dan paling tinggi 12 tahun,” tutur Esti.

Para korban saat diperlakukan amoral oleh si pelaku tidak di tempat ibadah akan tetapi dilakukan di rumah atau kamar hotel.

Pelaku selalu membawa dua korban. Satu korban dicabuli, korban lainnya dipaksa menonton.

“Itu ada yang dilakukan di rumah, ada juga yang dilakukan di kamar hotel, dan pelaku selalu membawa dua korban. Jadi ada teman (korban) yang menyaksikan itu,” ujar Esti.

Setelah mendapat laporan tersebut, UPTD langsung melakukan assessment awal atau pemeriksaan terhadap ke lima bocah itu.

Hasil assessment, Esti membeberkan, kelima korban kompak membenarkan, jika mereka telah dicabuli oleh AS.

 

Baca Juga : Tersebar Video Mesum Dosen dan Mahasiswi Dikamar Hotel!

 

Perbuatan yang dilakukan oknum polisi itu, para korban mengakui, jika mereka dipaksa untuk memegang alat kelamin AS.

“Dari hasil assessment awal semua konsisten mengatakan seperti itu. Karena kan yang mendampingi psikolog, kalau mereka ada bohong atau ada tidak konsisten kan ketahuan,” ungkapnya.

Namun Esti menegaskan, dugaan perbuatan cabul AS ini masih bersifat sementara.

Sebab, pihaknya masih terus mendalami betul-betul kasus ini.

“Apakah ada sampai perbuatan hubungan badan, kami masih telusuri ini.

Mudah-mudahan sih tidak sampai situ.

Termasuk korbannya, apakah cuma lima orang atau ada yang lainnya, kami masih harus dalami lagi,” tegasnya.

Adapun modus yang digunakan AS agar korbannya mau menuruti kemauannya, yakni dengan mengiming-imingi sejumlah uang tunai.

“Mereka itu rata-rata berdua (korban), tidak pernah sendiri mereka.

Modusnya diberi uang anak-anak itu, bervariasi, sih, paling banyak Rp20 ribu, deh kayaknya,” urai perempuan berkerudung itu.

Ditambahkan Esti, sampai sekarang pihaknya belum pernah bertemu dengan AS.

Namun informasi yang diterimanya, AS merupakan seorang bapak dua anak.

“Istrinya sedang hamil itu, punya dua orang anak,” tambahnya.

Usai memastikan kebenaran kasus ini, lanjut Esti, para keluarga dengan didampingi UPTD PPA Balikpapan melaporkan AS kepada Polda Kaltim.