Bulu Kemaluan Tak Perlu Dicukur Sebab Bisa Sehatkan Kemaluanmu

Bulu Kemaluan

Bulu Kemaluan Orang dewasa yang aktif berhubungan seksual kerap mencukur bulu disekitar organ intim, terutama sebelum bercinta. Alasannya banyak, mulai dari selera pasangan hingga demi kesehatan. Padahal memandang bulu kemaluan sebagai sesuatu yang kotor dan perlu dienyahkan adalah sebuah kekeliruan, apalagi untuk perempuan.

“Bulu kemaluan menyediakan penghalang alami untuk menjaga (organ intim) agar tetap bersih, mengurangi kontak dengan virus dan bakteri, dan melindungi area kulit lembut yang berada di sekitarnya,” kata Dr Vanessa Mackay, anggota Royal College of Obstetricians and Gynecologists yang bermarkas pusat di London, Inggris, kepada Independent.

Bulu kemaluan juga melindungi vagina dari debu. Bulu kemaluan juga mampu mengontrol kelembaban area yang mengurangi kemungkinan seorang perempuan terkena infeksi ragi (yeast infection).

Para pegiat Departemen Urologi di Universitas California menyebut kemungkinan lebih serius: infeksi menular seksual.

E. Charles Osterberg dan kawan-kawan mengadakan survei yang melibatkan 7.580 orang dewasa Amerika Serikat. Pertanyaan apakah mereka mencukur bulu kemaluan atau tidak. Jika iya, dilanjutkan dengan pertanyaan bagaimana tekniknya.

Responden diklasifikasikan “pencukur frekuensi tinggi” jika melakukannya setiap hari hingga tiap minggu. Sementara yang mencukur habis lebih dari 11 kali per tahun dikategorikan “pencukur ekstrem”.

Datanya kemudian disandingkan dengan riwayat infeksi menular seksual para responden. Hasilnya, yang dipublikasikan di BMJ Journal, menunjukkan bahwa responden yang mencukur, waxing, memangkas, atau mencabut bulu kemaluan kemungkinan dua kali lebih besar punya riwayat infeksi menular seksual seperti herpes dan penyakit lain yang menular melalui kulit.

Mereka juga 90 persen lebih mungkin punya kutu dan 70 persen lebih mungkin mengalami klamidia atau penyakit lain yang bisa menyebar lewat cairan tubuh lainnya.

BACA JUGA :Buaya Pemangsa Manusia Berukuran 4 Meter Ditangkap Keluarga Korbannya

Dalam ulasan Guardian, meski berhubungan erat, riset ini tidak membuktikan secara jelas apakah ada hubungan sebab akibat antara mencukur bulu kemaluan dan infeksi menular seksual. Namun Osterberg dan koleganya berani menyatakan kemungkinannya “masuk akal”.

“Sebab tindakan mencukur bulu kemaluan dengan pisau cukur atau alat cukur menyebabkan sobekan kecil di kulit ari, yang membuka kemungkinan penetrasi epitel oleh bakteri atau virus penyebab infeksi menular seksual,” lanjut mereka. Intinya, mencukur bulu kemaluan mungkin membuat luka kecil namun cukup untuk jadi pangkal penyakit.

Itu baru satu kemungkinan. Kemungkinan lain: karena para responden baru mencukur bulu kemaluan setelah dirinya menderita infeksi menular seksual. Bisa juga para pencukur aktif ini mempunyai kehidupan seksual yang berbeda dengan para pencukur pasif. Data memang menunjukkan bahwa aktivitas seksual mingguan memang lebih sering dilakukan yang aktif.

Sebagian besar orang dewasa di Amerika memang pelaku cukur bulu di sekitar kemaluan dengan beragam teknik. Menurut survei JAMA Dermatology dua tahun lalu jumlahnya mencapai 76 persen. Kebiasaan ini tak berlangsung 100 persen aman sebab kurang lebih seperempat di antaranya dilaporkan mengalami luka akibat kurang hati-hati saat mencukur.

Luka paling umum adalah sayatan, diikuti dengan ruam dan sensasi terbakar. Kebanyakan tidak serius, namun 1,5 persen kasusnya perlu ditangani secara medis. Periset Dr. Benjamin Breyer memakai unit gawat darurat (UGD) University of California San Fransisco (UCSF) sebagai data penunjang. Hasilnya, tiga persen orang dewasa yang datang ke UGD UCSF adalah mereka yang terluka akibat cukur bulu kemaluan.

Sebagaimana Osterberg dan kawan-kawan, Breyer juga menyatakan jika luka akibat mencukur bulu kemaluan memang memperbesar kemungkinan terkena penyakit menular seksual. Dalam laporan Time, Breyer berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari bukti valid bahwa cedera akibat mencukur memang membuat tingkat penularan penyakit seksual lebih tinggi.